Jika Anda Ingin Bahagia, Baca Ini!!

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini telah menjadi suatu kebiasaan. Jika Anda termasuk orang yang suka mengeluh maka ketahuilah bahwa kebiasaan mengeluh tidak akan membuat situasi yang Anda hadapi menjadi lebih baik, malahan hanya akan menguras energi Anda dan menciptakan perasaan negatif yang tidak memberdayakan diri Anda. Pada dasarnya semua orang membenci jika memiliki teman atau anggota keluarga yang suka mengeluh, tapi mengapa malah justru kita yang suka mengeluh?

Apa yang kita inginkan tidaklah selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Perlu Anda sadari bahwa hal ini akan terjadi hampir setiap hari dalam kehidupan. Satu-satunya cara yaitu mulai bersyukur. Kalau kita coba perhatikan orang-orang di sekeliling kita, termasuk diri kita, apa yang sebenarnya setiap orang kejar atau cari dalam hidup ini? Sehingga jika ada yang tidak tercapai mereka tidak berhenti mengeluh. Apakah uang, popularitas, atau prestasi? Itu semua hanya sarana yang digunakan untuk mengejar perasaan bahagia. Ketahuilah bahwa benda-benda materi tidak mempunyai daya untuk membuat Anda bahagia, mereka hanya memberi kenyamanan dan kenikmatan.

Sudah seharusnya kita memilih untuk menikmati hidup ini dengan selalu merasa bahagia atas apa yang kita peroleh. Hal ini akan menjadikan kita pribadi yang lebih bersyukur dan jauh dari sifat mengeluh. Mungkin Anda tidak menyukai beberapa situasi atau peristiwa yang terjadi dalam hidup Anda, tetapi pilihan untuk menjadi bahagia ada di tangan Anda. Kebahagiaan itu datang dari dalam dirinya, jika ia tidak menemukan kebahagiaan dalam dirinya maka dia tidak akan menemukannya di tempat lain.

Suatu waktu ada seorang petani dan istrinya yang sambil bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah di bawah guyuran hujan. Kemudian lewatlah sebuah sepeda motor di depan mereka. Berkatalah petani ini kepada istrinya, “Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri  yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan tetapi mereka bisa cepat sampai rumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah.” Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah guyuran hujan melihat sebuah mobil bak terbuka lewat di sampingnya, dan pengendara motor itu berkata kepada istrinya, “Lihat Bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.”

Di dalam mobil bak terbuka yang dikendarai sepasang suami-istri terjadi perbincangan ketika sebuah mobil sedan mewah lewat di hadapan mereka, “Lihatlah Bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok.” Pengendara mobil mewah itu seorang pria kaya raya, dan ketika dia melihat sepasang suami-istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya, “Betapa bahagianya suami-istri itu, mereka dengan mesra berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini, sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing-masing.”

Memang begitulah, ketika kita mengeluh sebenarnya kita membuka mata pada hal-hal buruk yang menguasai pikiran kita. Kita tidak menyadari karunia terbesar yang tidak kita lihat sebagai karunia. Kita tidak akan pernah sepenuhnya damai jika kita terus membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain, sementara pada saat yang sama kelebihan kita menjadi sama tampak seperti kekurangan.

Pernah beredar di email suatu kisah seorang wanita berusia 92 tahun yang sangat supel dan mandiri, yang pindah ke rumah jompo. Oleh karena secara sah dinyatakan buta, dan suami yang dinikahinya selama 72 tahun telah tiada, satu-satunya pilihan baginya adalah pindah ke rumah jompo. Ia menunggu lama di lobi sebelum akhirnya diberitahu bahwa kamarnya sudah siap. Sementara ia diantarkan melewati koridor, si pengantar menggambarkan kamarnya secara detail, hingga ke tirai jendelanya. “Bagus sekali”, kata wanita lansia ini dengan penuh semangat. “Tetapi kan Anda bahkan belum melihatnya?” kata si pengantar. “Mana ada hubungannya dengan itu?” jawab wanita lansia ini. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda putuskan terlebih dahulu. Entah saya suka kamar saya atau tidak itu tidaklah bergantung pada bagaimana perabotannya ditata, melainkan pada bagaimana saya menata pikiran saya.”

Kita sebenarnya bisa menetapkan aturan yang memberi kita kemudahan untuk merasa bahagia dan berada di dalam area kendali kita sepenuhnya. Jadi jika Anda bangun pagi dan mengatakan, “Semoga hari ini semua berjalan baik seperti yang saya harapkan, maka saya akan bahagia”, rasanya Anda akan sulit merasa bahagia sepanjang hari itu. Intinya, mengeluh bukanlah tipe pribadi yang memutuskan untuk berbahagia. Bahagia itu kita yang menciptakan bukan kebahagiaan yang menciptakan kita. Kita tentu menjadi pribadi yang lebih maksimal dalam setiap pencapaian jika kita menghindari sifat mengeluh dan mendahulukan berbahagia.

 

Reference: The Achiever: Balance of Life (Haryanto Kandani)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s