Sekali Lagi! Bumi Tidak Datar

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke asrama tempat saya menghabiskan masa-masa kecil. Disana saya bertemu dengan beberapa orang yang sekarang menjadi tenaga pengajar. Kami duduk membentuk lingkaran kecil sambil berbicara kesana kemari. Tiba-tiba satu diantara kami menanyakan teori kontroversial yang kini tengah viral di berbagai media. Benarkah bumi itu bulat? Pertanyaan ini memunculkan teori bumi datar yang seolah menantang teori-teori dari ilmuwan astronomi yang sudah tersohor sejak ratusan tahun yang lalu.

Dia bertanya kepada saya, “Apa bukti bahwa bumi itu bulat? Apakah Al Quran pernah menjelaskan bahwa bumi itu bulat?”. Saya diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya saya jawab dengan pengetahuan terbatas dari pelajaran di bangku sekolah. Saya hanya menjawab berdasarkan teori IPS yang pernah saya pelajari, namun memang benar bahwa saya tidak pernah mendapatkan dalil yang jelas tentang bentuk bumi sebenarnya. Dari situ saya terusik untuk menggali lebih dalam tentang bentuk bumi yang sebenarnya berdasarkan Al Quran tentunya, juga didukung penjelasan yang scientific dari beberapa referensi.

Saya tidak akan membahas teori kontroversial tentang bumi itu datar disini karena hanya akan memakan waktu Anda untuk membaca tulisan saya. Jika Anda ingin tahu teori itu silahkan lihat penjelasannya di Youtube. Saya akan menjawab tudingan satu per satu alasan mengapa mereka menganggap bumi itu datar.

 

Tentang tempat terbitnya Matahari

 “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di laut yang berlumpur hitam. Dan dia mendapati disitu segolongan umat. Kami berkata, “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menghukum mereka ataupun berbuat kebajikan terhadap mereka”. (QS. Al Kahfi : 86)

Ayat di atas yang dianggap sebagai dasar bahwa matahari memiliki tempat tenggelam yaitu barat, sehingga bisa jadi matahari memiliki tempat terbit di tempat lain yaitu timur. Mereka menggunakan ayat ini sebagai pendukung konsep bumi datar. Sebenarnya ayat tersebut bukan ungkapan langsung dari Allah, melainkan sebuah kisah seorang bernama Dzulkarnain yang melakukan perjalanan ke barat, sehingga sampailah dia di suatu kawasan perairan dimana ia melihat matahari tenggelam di cakrawalanya. Perhatikan sekali lagi, “dia melihat matahari tenggelam di laut berlumpur hitam”. Jadi bukan pernyataan langsung dari Allah bahwa matahari tenggelam disana, melainkan terlihat oleh Dzulkarnain seperti itu. Berbeda dengan jika Allah yang mengatakan secara langsung bahwa matahari tenggelam di laut berlumpur hitam. Anda dapat mengecek kisah Dzulkranain tersebut di Surat Al Kahfi ayat 83-94. Anda akan mendapati bahwa sebenarnya ayat itu bukan menceritakan tentang bentuk bumi melainkan menceritakan tentang petunjuk arah yang ditempuh oleh Dzulkarnain dalam pengembaraannya mencakup wilayah timur hingga wilayah barat di Asia Tengah tersebut.

Bukan hanya itu mereka juga menggunakan ayat berikut untuk menuding bahwa matahari memiliki tempat terbit.

 “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari matahari itu”. (QS. Al Kahfi: 90)

Memang ayat di atas mengesankan adanya lokasi tetap terbitnya matahari, tetapi kita tidak boleh hanya mengambil satu ayat untuk membuat kesimpulan baru. Kita harus mengumpulkan ayat-ayat lainnya kemudian menyimpulkannya secara holistik. Berikut ayat-ayat lain yang bercerita tentang posisi terbitnya matahari secara berbeda.

 “Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya”. (Ar Rahman: 17)

 

Menurut ayat ini, ternyata tempat-tempat atau posisi terbitnya matahari tidak tunggal, di timur saja, melainkan memiliki dua posisi ekstrim, yaitu sekali waktu timur agak ke utara, di kali lainnya adalah timur agak ke selatan. Disinilah umat manusia disuruh berpikir kenapa matahari bisa terbit bergeser-geser dalam setahun? Bagaimana menjelaskannya? Maka, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa itu disebabkan oleh bumi yang berrotasi dengan kemiringan sumbu sebesar 23,5 derajat. Dan menariknya, bukan hanya dua titik ekstrim tersebut, Al Quran juga menginformasikan bahwa posisi terbitnya matahari itu sebenarnya banyak. Sebanyak tempat-tempat di muka bumi yang membujur ke wilayah timur-barat, maupun utara-selatan.

Apabila kita kaitkan dengan ayat lainnya seperti ayat 29 dari surat Luqman:

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Bahwa Allah menciptakan malam dan siang dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Kadang lebih panjang siangnya, kadang lebih panjang malamnya. Itu menunjukkan terjadinya pergeseran posisi terbit dan tenggelamnya matahari yang kita alami sepanjang tahun.

 

Perintah menghadap ke kiblat (Ka’bah)

Berulang kali Al Quran mengelaborasi konsep bumi datar lewat ayat-ayatnya. Al Quran mengajarkan umat manusia untuk menghadap ke Mekkah namun hal ini hanyalah mungkin jika bumi itu datar. Karena bumi berbentuk bulat, sangatlah tidak mungkin untuk membungkuk ke bawah kea rah Makkah ketika Anda berada di tempat-tempat seperti Hawaii atau Los Angeles yang berada di sisi berlawanan dengan kota Mekkah. Hal ini menunjukkan sebuah kesalah konsep yang sangat mendasar dan tidak bisa diterima secara scientific.

 “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu kea rah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu kea rah Masjidil Haram. Dan dimana saja kalian berada, maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang dzalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk”. (Al Baqarah: 148-150).

Substansi berkiblat sebenarnya tidak semata-mata menghadap secara fisik, melainkan juga secara psikis dan spiritual. Karena itu, di dalam rangkaian ayat tersebut Allah mengajari untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan sesuai dengan kiblat agama masing-masing. Kiblat adalah orientasi amalan bagi umat beragama. Karena itu, selain diperintahkan menghadap secara fisik, kita juga diajari bahwa arah mata angin itu bukanlah sesuatu yang mutlak, sebagaimana diajarkan ayat-ayat berikut ini.

 “Bukanlah menghadapkan wajahmu kea rah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang butuh pertolongan) dan orang yang meminta-minta, dan hamba sahaya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (QS. AL Baqarah: 177)

 “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 115).

Jadi, intinya yang dimaksudkan menghadap kiblat itu bukanlah sekedar arah fisik, melainkan orientasi keagamaan seseorang. Karena itu konsep bumi yang datar apabila dikaitkan dengan arah kiblat ini tidaklah mengena.

 

Bumi itu terhampar

 “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al Ghaasiyyah: 20).

 “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah Kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 22).

 “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam”. (QS. Thaahaa: 53).

 “Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS. An Naba: 56).

 “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. (QS. Al Hijr: 19).

Istilah “hamparan” itulah yang mereka permasalahkan, karena hamparan bermakna datar, sehingga kesan mereka Islam mengajarkan konsep bumi yang datar yang tidak sesuai dengan sains modern. Al Quran seharusnya dipahami secara holistik, melibatkan ayat-ayat lain. Karena tak jarang Al Quran yang memiliki spektrum makna yang sangat luas itu menggunakan istilah-istilah awam di suatu ayat tetapi menggunakan istilah-istilah yang lebih scientific di ayat lain.

Penggunaan kata “hamparan” dengan berbagai istilahnya ­-suthihat, firaasyan, mahdan- di ayat-ayat tersebut adalah sudut pandang awam. Meskipun kalau kita bahas lebih jauh sebenarnya memiliki makna yang lebih sekedar bidang datar. Dalam bahasa yang awam Al Quran selalu menggunakan istilah yang mudah, tetapi tidak salah. Hanya berbeda sudut pandang saja. Bagi orang awam, tidak salah jika bumi ini disebut hamparan karena mereka tidak bisa melihat secara holistik, melainkan hanya melihat dari jarak dekat yang bersifat parsial. Karena itu, khazanah bahasa manusia pun mengenal kata “hamparan” dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, kita mengenal adanya hamparan sawah nan luas atau hamparan sungai dan lembah atau hamparan air di samudra, dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah karena memang perbandingan skala besarnya tubuh manusia dengan alam sekitarnya akan menghasilkan kesan hamparan itu.

Tetapi dalam skala scientific, kita tentu tidak cukup hanya mengambil ayat-ayat Al Quran yang sederhana itu, melainkan harus mencermati ayat-ayat mutasyabihat yang membutuhkan eksplorasi dan pemikiran, baik secara bahasa maupun secara ilmu kealaman yang kita kenal sebagai ayat-ayat kauniyah. Itulah yang seringkali dimotivasikan oleh Al Quran agar kita menjadi orang yang mau berpikir. Misalnya ayat berikut ini akan memberikan pemahaman tentang bumi yang bulat dari segi bahasa.

 “Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam. Dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Az Zumar: 5).

Penggunaan istilah “yukawwiru” untuk menggambarkan pergantian siang dan malam itu menunjukkan peralihannya terjadi pada benda bulat. Karena kata dasar yukawwiru adalah kaara yang bermakna menggulung, menggulingkan, melingkarkan, melilitkan dan semacamnya. Sehingga makna yukawwiru al laila ala an nahaar adalah ‘mempergantikan malam terhadap siang akibat berputarnya benda bulat (bumi)’. Makna semacam ini tentu saja tidak tertangkap oleh mereka karena mereka memang tidak memahami ayat-ayat Al Quran dari bahasa aslinya. Namun dengan adanya penjelasan ini mereka bisa langsung melakukan cross check ke dalam kamus bahasa arab, jika mau.

Ayat lainnya yang mengindikasikan bahwa bumi itu bulat adalah ayat berikut ini.

 “Dan suatu tanda (pelajaran) bagi mereka adalah malam, Kami kelupaskan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah sehingga (ketika sampai ke manzilah terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yaasiin: 37-39)

Di awal rangkaian ayat tersebut Allah menggunakan kata ‘naslakhu’ yang bermakna ‘mengelupas’ atau ‘menguliti’ untuk menggambarkan pergantian siang dan malam. Dengan sangat indah Allah memberikan nuansa yang bermakna sangat mendalam, bahwa pergantian malam dan siang itu ibarat mengelupas atau menguliti buah yang bundar. Itupun masih ditambahi dengan informasi-informasi yang menguatkan bentuk bulatnya bumi dengan gerak semu matahari yang mengitari bumi. Mengitari benda bulat. Ditambah lagi, dengan informasi gerakan bulan mengitari bumi yang menghasilkan fase-fase bulan yang berbentuk sabit atau tandan melengkung.

Bagi seorang ilmuwan, semua informasi itu sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa bumi itu bulat. Sehingga bulan sabit itu pun bentuknya tidak kotak melainkan melengkung. Tentu saja karena sinar matahari yang memantul ke Bulan itu terhalang oleh bentuk Bumi yang bundar. Jadi, kalau pembahasannya berada dalam wilayah scientific, Al Quran sudah sangat gamblang menjelaskan dengan caranya bahwa bentuk bumi ini bulat bukannya datar. Tetapi memang informasi ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang mau berpikir sebagaimana berkali-kali telah dianjurkan oleh Al Quran.

 

Reference: Musthofa, Agus. (Menjawab Tudingan Kesalahan Saintifik Al Quran)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s