3 Teknik Jitu Membuat Orang Lain Melakukan Apa yang Kita Inginkan

 

Ada banyak sekali teknik bagaimana cara membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan tanpa merasa keberatan. Namun saya yakin teknik di bawah ini akan mampu melengkapi kumpulan versi teknik mempengaruhi milik Anda. 

 

Jangan mengritik, mencerca, atau mengeluh

Kritik adalah hal yang sia-sia karena menempatkan seseorang dalam posisi defensif dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik itu berbahaya, karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya, dan membangkitkan rasa benci.

B.F. Skinner, seorang psikolog terkenal di dunia, membuktikan melalui pengalaman-pengalamannya bahwa seekor binatang yang diberi hadiah karena tingkah laku baik akan belajar jauh lebih cepat dan menyimpan apa yang dipelajarinya dengan jauh lebih efektif, dibandingkan dengan seekor binatang yang dihukum karena bertingkah laku buruk. Studi-studi berikutnya menunjukkan bahwa hal yang sama juga berlaku pada manusia. Dengan mengkritik, kita tidak membuat perubahan yang langgeng dan sering kali malah menimbulkan rasa benci.

Hans Selye, seorang psikolog besar lainnya berkata, “Kehausan kita akan persetujuan sama besarnya dengan ketakutan kita pada kritik.” Rasa benci yang ditimbulkan oleh kritik dapat menurunkan semangat kerja para pegawai, anggota keluarga, dan kawan-kawan, dan hal ini tetap tidak memperbaiki situasi yang sudah dikritik.

Sebagai contoh, seperti kita ketahui di berbagai media muncul kasus korupsi pembuatan E-KTP pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kabarnya kasus ini telah menyeret sejumlah anggota dewan dan kaum elit pejabat pemerintahan. Saat pengakuan oleh Nazarudin yang secara terang-terangan membeberkan kepada awak media bahwa siapa saja pelaku korupsi tersebut. Apakah dia menyalahkan dirinya sendiri? Tidak. Dia membenarkan diri dengan cara menyebut nama-nama orang lain agar pikirnya mendapat perlakuan hukum yang sama dengan dirinya. Atau mungkin saja dia berusaha menyalahkan orang lain seolah dia terjebak dalam kasus tersebut.

Begitulah sifat manusia, mereka yang bersalah menyalahkan orang lain selain dirinya sendiri. Kita semua seperti itu. Jika kita hanya ingin menimbulkan rasa benci pada masa mendatang yang mungkin akan bertahan selama beberapa dasawarsa dan menetap sampai mati, cobalah menuruti hati memberi kritik yang tajam, betapapun yakinnya kita bahwa tindakan kita benar.

Tatkala kita berhubungan dengan manusia, mari kita mengingat bahwa kita tidak berhubungan dengan makhluk logika. Kita berhubungan dengan makhluk penuh emosi, makhluk yang penuh dengan prasangka, dan dimotivasi oleh rasa bangga dan sombong. Sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita berusaha mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik, dan melahirkan simpati, toleransi, serta kebaikan hati. Untuk benar-benar mengenal semua, kita harus memaafkan semua. Seperti kata seorang filosof, “Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya.

 

Berikan Penghargaan yang Jujur dan Tulus

Anda mungkin bisa membuat para pegawai Anda mau bekerja keras dengan Anda dengan ancaman memecat mereka. Anda mungkin bisa membuat seorang anak melakukan apa yang Anda kehendaki dengan cambukan atau ancaman. Namun metode-metode kejam ini sudah sama sekali tidak bisa diharapkan bereaksi. Satu-satunya yang bisa menggerakkan Anda melakukan apapun adalah dengan memberi Anda apa yang Anda inginkan. Maksudnya adalah akan lebih baik jika kita membuat orang lain melakukan apa yang kita dikehendaki dengan cara membuatnya merasa butuh untuk melakukannya.

Sebenarnya setiap orang itu memiliki sifat ingin menjadi orang penting. Mereka tidak banyak menginginkan sesuatu tetapi mereka hanya ingin dianggap penting dari apapun yang mereka lakukan.

William James berkata, “Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” James tidak menyebutkannya sebagai suatu harapan atau hasrat atau dambaan untuk dihargai. Tapi Dia mengatakan “Kebutuhan untuk dihargai”. Penghargaan adalah satu rasa lapar manusia yang tak tergoyahkan. Hasrat untuk menjadi penting adalah salah satu perbedaan nyata antara manusia dan binatang. Hasrat ini membuat kita ingin mengenakan pakaian gaya mutakhir, mengendarai mobil terbaru, dan berbicara tentang anak-anak kita yang brilian. Hasrat inilah yang menggoda banyak pemuda untuk bergabung dalam kelompok-kelompok kriminal.

Manusia kadang menjadi cacat dalam usahanya memperoleh simpati dan perhatian serta mendapatkan perasaan penting. Diana, seorang admin di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya adalah seorang wanita yang cerdas, penuh dengan inisiatif, dan energik. Tetapi kemudian menjadi cacat dalam usahanya memperoleh perasaan penting. Dalam upayanya untuk menjadi orang penting dan ingin dihargai sebagai orang penting, Diana lebih ramah pada pimpinannya. Seringkali Diana bekerja dengan ceria dalam tawa yang renyah antara karyawan dan pimpinannya. Dia juga selalu siaga ketika pimpinannya membutuhkan Dia disisinya untuk membantu pekerjaannya. Namun tidak pada karyawan lain yang meskipun memiliki jabatan di atasnya. Dia tidak ramah, kaku, dan suka membentak. Akibatnya, sedikit teman kerja yang berteman dengannya. Dia beranggapan akan menjadi penting jika Dia duduk sejajar dengan pimpinannya.

Dalam beberapa kasus terkadang pujian akan terlihat berlebihan dan memuakkan. Sanjungan yang berlebihan jarang berhasil terhadap orang-orang yang cerdas. Hal itu bersifat rendah, egois,  dan tidak tulus. Inilah perbedaan antara penghargaan dan sanjungan. Penghargaan muncul dari hati, dia tulus, dan terdengar sangat menyenangkan. Namun sanjungan itu seperti angin busuk yang keluar dari rongga gigi dari orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

 

Bangkitkan Minat dalam Diri Orang Lain

Paman saya adalah pemancing yang ulung, sepanjang hidupnya didedikasikan hanya untuk memancing. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan yang sia-sia dan membuang-buang waktu. Namun Paman saya telah menemukan minatnya dalam memancing dibanding minatnya pada hal lain. Paman saya mungkin akan lebih menyukai puding buah lezat yang ditaburi mayonise dan sedikit salad di atasnya. Tetapi ketika saya memperhatikan Paman saya memancing, ternyata ikan jauh lebih menyukai cacing daripada puding atau bahkan steak daging panggang. Mengapa kita tidak menggunakan akal sehat untuk memancing orang lain?

Mengapa harus berbicara tentang apa yang kita inginkan? Itu kekanak-kanakan. Tentu saja, Anda berminat dengan hal-hal yang Anda inginkan. Anda akan selamanya berminat pada hal itu. Tetapi tak seorangpun yang berminat. Kita semua persis seperti Anda: kita berminat pada apa yang kita inginkan. Jadi, satu-satunya cara di bumi ini untuk mempengaruhi orang lain adalah dengan berbicara tentang apa yang mereka inginkan dan tunjukkan kepada mereka bagaimana memperolehnya.

Ingat itu tatkala Anda mencoba menggerakkan seseorang untuk mengerjakan sesuatu. Jika, misalnya, Anda tidak ingin anak-anak Anda merokok, jangan memberi ceramah kepada mereka dan jangan bicara tentang apa yang Anda inginkan. Tetapi tunjukkan kepada mereka bahwa rokok mungkin akan membuat mereka tidak bisa masuk dalam tim bola basket atau tidak bisa memenangkan lari seratus meter.

Mungkin Anda ingin membujuk seseorang untuk mengerjakan sesuatu. Sebelum Anda berbicara, berhentilah sebentar dan tanyakan diri Anda: “Bagaimana Saya bisa membuat orang ini melakukannya?” pertanyaan itu akan menghentikan kita agar tidak tergesa-gesa masuk ke dalam situasi yang tidak menguntungkan, dengan mengeluarkan pembicaraan mengenai keinginan-keinginan kita.

Bagaimana mungkin anak berusia 12 tahun mampu bereaksi dan menyesuaikan seorang ayah berusia 45 tahun. Namun hal itu terjadi ketika Kyai Mohammad Ji’in menginginkan santri-santrinya untuk sholat malam pada waktu liburan ramadhan. Pondok Pesantren Al Hikmah memang tidak memiliki banyak tenaga pengasuh sehingga mengharuskan Kyai Mohammad Ji’in mengurusi segala urusan kepesantrenan sendiri. Apakah Beliau menghukum santri-santrinya yang super nakal bila tidak bangun malam untuk sholat tahajud? Tidak. Beliau mungkin pertama kali akan membangunkan santri-santrinya dengan susah payah. Apalagi harus diajak berdzikir hingga waktu shubuh tiba. Bagi santri yang tertidur saat dzikir maka tidak akan dibangunkan untuk sahur.

Ternyata cara ini berhasil membuat para santri secara inisiatif untuk tidur siang dan mempersiapkan untuk bangun malam, tentunya bagi mereka yang berulang kali tidak makan sahur. Kyai Mohammad Ji’in hanya mengatakan, “Kalau kalian tidak tidur siang, nanti malam nggak bisa sholat malam. Kalau nggak sholat malam dilarang ikut makan sahur.” Mereka bukan hanya rajin sholat malam setelah itu, bahkan mereka juga tidak mengantuk dzikir setelah shubuh.

Mengapa kita tidak mengadaptasi psikologi yang sama ini untuk urusan bisnis kita? Pada saat kita memiliki ide cemerlang, bukannya membuat orang lain berpikir bahwa itu milik kita, mengapa tidak membiarkan mereka sendiri yang memasak dan mengaduk ide itu. Mereka kemudian akan menganggapnya sebagai ide mereka. Mereka akan menyukainya dan bahkan mereka akan melakukan hal-hal lebih dari yang kita kehendaki untuk mereka lakukan.

 

Reference: Carnegie, Dale.

Advertisements

One thought on “3 Teknik Jitu Membuat Orang Lain Melakukan Apa yang Kita Inginkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s