Maksimalkan Potensi Financial Quotient (FQ)

dna-gay-2

Apa yang kalian ketahui tentang Financial Quotient (FQ)?

Berangkat dari munculnya istilah Intelligence Quotient (IQ) oleh seorang ahli psikologi Perancis bernama Alfred Binet (1857 – 1911). Binet mengembangkan sebuah tes untuk mengukur tingkat kepintaran seorang anak secara verbal. Kemudian muncullah istilah Emotional Quotient (EQ) yang dikenalkan oleh Salovey dan Mayer pada tahun 1990 dengan istilah “Emotional Intelligence Quotient (EIQ)” dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1955 dengan memisahkan antara IQ dan EQ. Kemudian muncullah istilah-istilah kecerdasan lainnya seperti Spiritual Quotient (SQ), Creativity Quotient (CQ), Adversity Quotient (AQ), dan Financial Quotient (FQ).

Istilah FQ ini mungkin jarang kita dengar tapi sesungguhnya setiap hari kita telah melakukan praktik Financial Quotient. Contohnya, ketika kita memiliki uang sebesar Rp. 2.000,- kita tidak mungkin membeli barang yang seharga Rp. 5.000,- tanpa alasan tertentu. Kita secara alami memiliki hasrat untuk menghindari minus meskipun dalam beberapa kasus kita membutuhkannya. Sebagaimana istilah SQ yang telah dipopulerkan oleh Ari Ginanjar pada pertengahan tahun 2005, istilah FQ juga tengah diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Imam Supriyono pada tahun 2012.

Financial Quotient (FQ) adalah kemampuan merencanakan, mengatur, mengelola, dan menyeimbangkan antara kebutuhan dengan finansialnya. Banyak orang yang setiap hari bekerja hanya untuk mencapai kemandirian finansial dan agar kebutuhannya bisa terpenuhi. Mungkin seseorang akan membuat jadwal kebutuhan yang harus dipenuhi yang jauh lebih tinggi daripada kemampuannya menghasilkan uang. Ketimpangan ini akan selalu berlanjut jika seseorang tidak memiliki nilai FQ yang tinggi. logo fq cuadradoLebih-lebih jika seseorang berani berhutang tanpa ada perencanaan sumber dana pelunasan yang jelas maka akan jauh lebih parah. Itu sebabnya kita sering melihat, mungkin tetangga dekat kita atau saudara kita menggadaikan barang berharganya untuk melunasi hutang. Dan bahkan mungkin mereka akan meninggalkan rumahnya untuk menghilangkan jejak.

Itu semua tidak akan terjadi jika kita memiliki nilai FQ yang tinggi. Besar kecil pendapatan kita tidak akan mempengaruhi stabilisasi finansial kita jika kita menerapkan kecerdasan finansial (FQ) kita dengan baik. Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai topik kita saat ini, saya akan memberikan contoh seseorang yang memiliki nilai FQ yang tinggi.

Rio mungkin dipandang biasa saja jika gaji perbulannya Rp. 2.000.000,- tapi Rio akan menjadi luar biasa jika gaji tersebut, dia menerima uang Rp. 3.000.000,-. Pertanyaannya, darimana Rio mendapatkan 1 juta tambahan?.

 

Contoh Praktik FQ Dalam Melunasi Hutang

Dikisahkan Rio memiliki hutang Rp. 15.000.000,-, katakan saja mungkin karena kebodohannya dalam mengatur finansialnya. Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti ilustrasi kondisi keuangan Rio berikut ini.

Hutang                        : Rp. 15.000.000,-

Pengeluaran Rutin

  • Biaya sewa rumah : Rp. 400.000/bln
  • Biaya air dan listrik : Rp. 200.000/bln
  • Biaya makan : Rp. 900.000/bln
  • Biaya transportasi : Rp. 300.000/bln
  • Total : 1.800.000/bln

Pendapatan     : Rp. 2.000.000,-

 

Maka kita hanya bisa menyicil hutang maksimal Rp. 200.000,-/bln sehingga butuh waktu 6 tahun 3 bulan untuk melunasinya. Perlu diketahui, meskipun kita tinggal dengan orang tua, pada dasarnya biaya-biaya itu adalah pengeluaran rutin kita yang sementara diatasi oleh orang tua.

 

Sekarang bandingkan dengan Rio yang memiliki nilai FQ tinggi.

Hutang                       : Rp. 15.000.000,-

Pengeluaran Rutin

  • Biaya sewa rumah : Rp. 200.000/bln
  • Biaya air dan listrik : Rp. 150.000/bln
  • Biaya makan : Rp. 650.000/bln
  • Biaya transportasi : Rp. 250.000/bln
  • Total : 1.450.000/bln

Pendapatan     : Rp. 2.000.000,-

 

Catatan:

  • Pangkas biaya sewa rumah dengan mencari kontrakan atau homestay yang sederhana.
  • Pangkas biaya air dan listrik dengan menghindari penggunaan air yang tidak perlu.
  • Pangkas biaya makan dengan cara masak sendiri, lauk pauk yang sederhana tapi bergizi.
  • Pangkas biaya transportasi dengan tidak pergi ke tempat yang kurang bermanfaat yang dapat mempengaruhi biaya transportasi.

 

Rio sudah bisa menyicil hutangnya maksimal Rp. 550.000,-/bln sehingga butuh waktu ± 2 tahun 4 bulan untuk melunasi hutangnya. Hanya dengan teori yang masih sederhana kita bisa melihat peningkatan kualitas finansial Rio secara drastis. Bagaimana jika saya tingkatkan kemampuan FQ Rio? Rio mungkin bisa saja untuk sementara menghilangkan beban sewa rumah (meskipun hakikatnya adalah bebannya) dengan cara tinggal di rumah keluarga. Rio juga bisa saja meminimalisir biaya air, listrik, dan makan sampai Rp. 500.000,-/bln karena Rio tinggal dengan keluarganya. Maka Rio sudah bisa menyicil hutangnya maksimal Rp. 1.050.000,-/bln, dengan demikian butuh waktu 1 tahun 3 bulan untuk melunasi hutangnya.

 

Contoh Praktik FQ dalam meningkatkan kemampuan FQ

301-moved-permanently-pR06X2-clipart

Ketika Rio tidak memiliki hutang, maka Rio akan lebih mudah mengatur pengeluaran rutinnya. Mari kita lanjutkan kemampuan finansial Rio. Jika pola hidup Rio masih menggunakan rincian kedua di atas, maka Rio akan memiliki dana taktis (dana cadangan) sebesar Rp. 550.000,-/bln. Rio dapat menggunakan dana taktisnya untuk investasi. Sebagai contoh, Prospek rajakaya (Sapi, Kambing, Lembu) setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang meningkat akibat pola hidup orang yang berubah-ubah. Rio memandang hal ini adalah sebuah peluang, akhirnya Rio menggunakan 3 bulan dana taktisnya tersebut (3 x Rp. 550.000,- = Rp. 1.150.000,-) untuk membeli seekor kambing betina.

Mungkin Rio akan sakit atau mengalami kejadian tak terduga, sehingga Rio mencadangkan 2 bulan dana taktis berikutnya untuk persiapan tak terduga. Kemudian pada bulan ke 8, Rio menggunakan 3 bulan dana taktisnya lagi untuk membeli seekor kambing. Bayangkan jika setiap 5 bulan Rio dapat membeli seekor kambing jantan sedangkan memiliki dana persiapan tak terduga Rp. 1.100.000,-, belum lagi jika kambing-kambingnya beranak. Sedangkan harga seekor kambing dewasa ± Rp. 1.700.000/ekor, maka kita pun bisa mengkalkulasi darimana tambahan gaji Rp. 1.000.000,-/bln Rio dengan memperhatikan laba kotor investasi yang sudah dipotong, biaya perawatan, bagi hasil, dan kebersihan.

 

Memaksimalkan FQ, IQ, EQ, SQ, CQ, dan AQ

Sebenarnya kita semua tidak pernah sadar bahwa esensi Tuhan menciptakan makhluk terbaik adalah jika makhluk itu memaksimalkan potensi yang ada. Binatang pun juga bisa menjadi makhluk terbaik jika binatang memiliki potensi seperti manusia. Kemampuan kognitif pada dasarnya sudah memberikan bimbingan dan cara mengatur dan mengendalikan kecerdasan emosional kita, tergantung apakah kita mampu menerapkannya secara maksimal.

Dalam hidup ini, kita tidak pernah lepas dari ketergantungan akan harapan hidup yang baik, sejahtera, dan mapan. Sedangkan uang adalah fasilitator diantara kesemuanya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa uang itu tidak dibawa mati, tapi humoris mengatakan tanpa uang hidup seolah mau mati. Biasanya orang yang terlalu sombong tidak membutuhkan uang adalah orang yang tidak mampu menghasilkan uang yang lebih banyak dari kemampuannya menghasilkan. Itu sebabnya mereka menggunakan ajaran agama untuk melindungi kesombongan mereka.

Inilah peran EQ yang paling mendasar bahwa bagaimana cara IQ menempatkan peran pengetahuan pada tempatnya. Perlu diketahui, agama Islam itu mengharuskan pemeluknya untuk menjadi kaya. Bagaimana cara melaksanakan ibadah haji, bagaimana bershodaqoh dengan ikhlas, membantu fakir miskin, menyelenggarakan pendidikan dan kesehatan gratis, membangun masjid, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya jika kita tidak memiliki uang. Dan yang paling mendasar, bagaimana kita bisa menghidupi keluarga, mencerdaskan anak, menyejahterakan istri jika kita tidak punya cukup uang untuk membiayai itu semua. Seseorang yang ber-IQ tinggi akan memandang uang sebagai fasilitator bukan sebagai pedoman hidup. Uang tidak dibawa mati adalah pedoman bagi orang yang berpedoman pada uang, bukan pada Al Quran dan Hadits.

Dari sini kita akan mengetahui, betapa Dzat yang Maha Kaya mengharuskan hambanya untuk kaya dengan cara berupaya dan berdoa. Dalam upayanya, seseorang akan mudah jenuh sehingga peran AQ sangat dibutuhkan, yaitu sebagai penyemangat untuk lebih giat, lebih sabar, dan lebih teliti lagi. Seseorang yang menggabungkan SQ dan AQ-nya tidak akan mudak berputus asa, karena mereka meyakini bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Tuhan juga sudah menyiapkan porsi kesuksesan dalam tingkatan upaya. Orang yang malas uangnya sedikit, orang yang rajin uangnya banyak. Bukan hanya itu, orang yang ber-SQ tinggi akan meyakini bahwa sesungguhnya telah dikabulkan doanya dengan dibukanya jalan-jalan yang seringkali banyak orang tidak menyadari. Apapun kondisi kita adalah jalan bagi doa kita, karena seburuk-buruk jalan tetap jalan menuju kebaikan, menuju cita-cita yang kita impikan. Untuk sampai ke sekolah, akan ada jalur yang bagus, jalur yang berlubang, dan jalur yang bergelombang. Jika kebetulan kita berada didepan jalur yang berlubang, toh pada akhirnya akan sampai ke sekolah. Itulah analogi sederhananya.

Bayangkan jika kemampuan IQ, EQ, SQ, dan AQ di atas diterapkan dalam meningkatkan kemampuan FQ dengan sedikit sentuhan Creativity Quotient (CQ), maka kita sendiri pun bisa mengestimasi kemampuan pribadi kita tanpa perlu penjelasan yang lebih lebar dari saya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s