Langkah Mendidik Anak yang Efektif 

mendidik-anak-kabar-mulimah-640x330

Merupakan sebuah naluri bagi banyak orang tua jika mendambakan anak yang  cerdas, rajin, dan berprestasi. Anak merupakan aset masa depan yang tak ternilai harganya, karena anaklah yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan orang tua sebagai seorang pendidik utama. Jika anaknya nakal, setinggi apapun pendidikan orang tuanya dan sebanyak apapun prestasi yang diraihnya, dia tetap menjadi pribadi yang gagal mencetak generasi penerus. Tetapi sejahat apapun orang tuanya jika dia mempunyai anak yang baik dan membanggakan maka dia akan menjadi orang tua yang berhasil merubah alur hidup keluarganya. Dan itu tidak mungkin, seorang anak yang baik berasal dari orang tua yang buruk. Karena orang tua yang buruk namun berhasil mendidik anaknya menjadi orang baik adalah orang tua yang baik.

Kebanyakan dari kita menjadi orang tua yang hanya menggantungkan kebaikan yang belum kita lakukan kepada anak kita dan menuntut mereka untuk bisa melakukannya padahal selama ini kita belum bisa melakukan kebaikan itu. Kadang-kadang kegagalan kita meraih sesuatu membuat kita menuntut anak kita untuk meraihnya. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana cara anak itu melakukan kebaikan dan meraih kesuksesan sedangkan si penuntut (orang tua) tidak memberikan cara maupun memberikan figur yang jelas?

Beberapa diantara kita mungkin tidak mampu memberikan deskripsi yang jelas dan figur yang bisa dicontoh. Namun kita tetap bisa memiliki anak yang seperti kita harapkan dengan bantuan orang lain yang secara jelas mengetahui cara menjadi lebih baik dan kunci-kunci kesuksesan. Meskipun demikian, teori itu tidak lantas menjadikan kita sebagai orang tua yang lepas tanggung jawab dengan berhenti menjadi figur bagi anak-anak kita. Oleh karena itu, tahapan mendidik anak berikut ini akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan maksimal.

 

Anak usia 0 –  6 tahun

Pada usia ini, orang tua memiliki tugas utama yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Orang tua harus bekerja keras menjadi figur yang baik bagi anak. Seperti halnya teori umumnya, yaitu keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama yang didapat anak. Anak akan cenderung berbicara, berpikir, dan bersikap sesuai dengan apa yang dilihatnya. Namun pada usia ini, anak juga membutuhkan sosok ayah dan sosok ibu yang hanya diberikan oleh orang tua yang sesungguhnya. Beberapa fakta di masyarakat sangat memprihatinkan ketika seorang anak diasuh oleh babysitter, baby care, atau pembantu sedangkan kedua orang tuanya bekerja. Dan yang lebih menyedihkan, ketika orang tuanya itu berprofesi sebagai seorang guru, mereka mendidik anak orang lain dengan baik sedangkan anaknya sendiri mendapat pendidikan yang belum terukur baik buruknya menurut standar orang tua itu sendiri.

 

Anak usia 6 – 13 tahun

Pada usia ini, anak telah menginjak usia siswa SD. Jika kita bukan orang tua yang mampu memberikan figur kepada anak, seharusnya kita meminta bantuan kepada orang yang lebih ahli. Anak akan lebih terarah sikapnya jika kita masukkan ke pesantren. Pada usia ini, anak mengalami transformasi, mulai yang semula pemikirannya hanya berdasar kepada pemikiran orang tua menjadi lebih umum karena mendapatkan pengaruh dari teman sebayanya yang saling membawa pemikiran orang tuanya masing-masing. Maka usia ini adalah awal peran orang tua sudah tidak mendominasi kepribadian anak. Jika lingkungan yang didapat anak kurang positif maka anak akan menjadi sangat tidak terkendali ketika menginjak remaja nanti.

Di Indonesia, kita akan mengenal banyak sekali pesantren dengan fokus pembelajaran yang berbeda. Banyak orang beranggapan bahwa pesantren hanya berfokus tentang pendidikan agama saja. Pemahaman seperti ini memang didasarkan pada pengertian pesantren salafiyah (tradisional) dimana model pembelajarannya masih bersifat sederhana dan materi yang diajarkan masih di ranah pengetahuan ajaran inti agama serta cara hidup ala islami.

Namun pada perkembangannya pesantren telah bertransformasi dengan lingkungan sekitarnya, yang dikenal dengan pesantren khalafiyah (modern), yaitu pesantren yang mengedepankan penggunaan teknologi untuk mempelajari pengetahuan agama secara lebih meluas, dengan kajian yang up to date. Ada juga pesantren yang menggabungkan antara keduanya yang dikenal dengan pesantren komprehensif (tradisional-modern) dimana salafiyah sebagai ciri khas pesantren tetap dijunjung tinggi dengan tidak berpaling dari perkembangan teknologi.

Dari sekian banyaknya pesantren yang ada di Indonesia, menjadi solusi utama dalam mendidik anak kita di usia ini. Perubahan lingkungan dan perhatian keluarga akan dialami oleh anak tersebut. Mereka akan mengalami penyakit homesick, yaitu kondisi anak yang selalu terbayang-bayang oleh kenyamanan masa lalunya di rumah. Pada usia ini, kita bisa melatih anak kita untuk hidup mandiri sedikit demi sedikit dengan memisahkan lingkungannya secara jelas, antara yang baik dan yang buruk.

Pada masa ini, kita sebagai orang tua tidak perlu terlalu menuntut anak harus belajar kitab ini atau itu. Biarkan mereka bereksplorasi dengan lingkungan barunya yang edukatif sehingga semangat untuk belajar akan muncul dengan sendirinya.

 

Remaja usia 13 – 18 tahun

Ketika anak sudah mulai merasa terbiasa dengan lingkungan yang terstruktur, jiwa menuntut ilmu yang tinggi, maka saatnya pada usia ini anak mulai dituntut untuk menerapkan hasil belajarnya dan mendalami ilmu-ilmu lain baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Tetap di pondok yang sama atau pindah ke pondok yang lebih baik tidaklah menjadi masalah, selama lingkungan tersebut mampu menggugah semangat anak untuk terus berkembang.

Pada usia ini anak lebih mudah dan bahkan sangat mudah mengikuti budaya yang berkembang, gaya hidup temannya tanpa memperdulikan larangan dan nasihat orang tua. Pada usia ini, sumber belajar utama anak adalah temannya. Mereka cenderung mengikuti dan meniru apapun yang dilakukan temannya yang dianggapnya keren meskipun dia tahu itu salah. Peran orang tua akan tersisihkan. Orang tua seharusnya lebih pro aktif dengan mengamati siapa saja temannya dan bagaimana kepribadian temannya. Dalam kasus tertentu, orang tua harus berkoordinasi dengan temannya untuk melindungi anaknya dari pengaruh yang lebih berbahaya. Orang tua juga harus berkoordinasi dengan gurunya secara lebih intensif. Gejala-gejala kenakalan remaja harus ditindak lanjuti sedini mungkin.

Dalam beberapa kasus, ada beberapa anak yang mengalami pubertas lebih cepat. Mereka lebih mementingkan lawan jenisnya daripada kewajiban dan kebutuhannya. Pada saat itu, anak akan mengalami perubahan seksualitas yang drastis sehingga jika tidak diarahkan dengan benar maka akan terjadi perubahan sikap dan cara berpikir. Dalam menyikapi hal tersebut, orang tua tidak boleh melarang perubahan anaknya karena efek masa pubertas, melainkan orang tua harus lebih menekankan pada tujuan hidup yang ingin dicapai selama belajar. Orang tua harus menggambarkan dengan jelas siapakah anak kita pada 10 tahun yang akan datang. Dengan koordinasi yang baik antara orang tua dengan guru dan orang tua dengan teman anaknya yang baik akan memaksimalkan fungsi orang tua dalam mendidik anaknya.

 

Remaja akhir 18 – 21 tahun

Orang-orang biasa menyebutkan usia ini adalah usia akhir pencarian jati diri seorang anak. Pada usia ini anak lebih berpikir kritis, bersikap lebih penting, dan lebih selektif dalam mencari teman. Anak juga terkadang merasa bingung akan masa depannya sehingga menyebabkan emosi negatif keluar darinya. Banyak orang akan menyakinkan dirinya dan menunjukkan jalan yang terbaik menuju kesuksesan, namun sedikit sekali dari mereka yang percaya 100%. Mereka cenderung menggabungkan teori-teori kesuksesan kemudian menerapkannya. Namun mereka belum mampu berpikir lebih panjang sehingga teori yang selama ini mereka terapkan seringkali membuatnya jenuh dan kembali mempelajari teori kesuksesan lainnya.

Setelah keluar dari lingkungan yang terstruktur, anak akan menghadapi lingkungan yang sebenarnya yang berbeda dengan teori yang dipelajarinya selama ini. Anak akan mengalami kontradiksi yang sangat kemudian secara perlahan akan menyesuaikan diri secara wajar. Pada usia ini, orang tua harus memberikan kesempatan yang luas kepada anak untuk mendalami bidang-bidang tertentu yang diminatinya. Orang tua tidak boleh memaksa anak untuk mendalami bidang tertentu hanya karena mereka tidak pernah mengetahui secara jelas bidang yang lain. Tugas orang tua hanyalah sebagai pengawas dan pengendali, jangan sampai anak mendalami pengetahuan yang bersifat merusak baik golongan maupun lingkungan.

 

Itulah beberapa langkah efektif dalam mendidik anak. Memang akan ada banyak masalah yang terduga yang sengaja tidak dijelaskan disini, namun setidaknya poin-poin di atas dapat memberikan tolak ukur tentang bagaimana cara mendidik anak yang efektif. Adapun mengenai masalah lain yang muncul merupakan bentuk kemampuan orang tua dalam mencari solusinya, karena setiap keluarga memiliki latar belakang masing-masing. Kita memang bukan Tuhan yang mampu mencetak kepribadian anak seperti yang kita inginkan. Namun kita telah diberi kemampuan untuk berupaya semaksimal mungkin mendidik anak kita untuk selanjutnya Tuhanlah yang akan memutuskan apakah upaya kita layak untuk dihargai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s